Tantangan Menghadapi Mixed Culture

Kamis, 2 April 2015 16:13:31 - Posting by diyah_ayu - 423 views

KoranPendidikan.com - Guru adalah sosok panutan yang selalu digugu dan ditiru terutama oleh siswa. Digugu berarti setiap ucapannya selalu dapat menjadi panutan. Sedangkan ditiru dapat dimaknai dengan perbuatan seorang guru selayaknya menjadi tauladan bagi para siswanya. Guru merupakan sosok yang ideal dan patut diidolakan bagi para siswa.

Menelisik sepuluh sampai lima belas tahun yang lalu, masih banyak dijumpai siswa yang selalu ngajeni gurunya. Seorang murid memiliki rasa segan, hormat, dan patuh terhadap gurunya. Tanpa diperintah oleh guru, ketika papan sudah penuh dengan tulisan maka siswa berinisiatif untuk menghapus papan tersebut. Ketika bertemu dengan guru baik dimanapun akan menyapa dan berjabat tangan. Tidak ada seorang siswa pun yang berani membantah, mendebat, bahkan berbicara dengan volume suara melebihi guru.

Zaman telah berubah, akses teknologi, informasi dan komunikasi semakin mudah. Budaya-budaya dan kebiasaan di seluruh penjuru dunia dapat diakses hanya dengan satu gadged. Perkembangan zaman telah memaksa generasi muda terutama siswa untuk berakulturasi dengan budaya-budaya di luar budayanya. Akibatnya terjadi mixed culture yang mengubah watak dan sikap para siswa.

Mixed culture mengikis budaya asli dan mengisinya dengan budaya baru. Akan tetapi, budaya-budaya baru tersebut tidak selalu sesuai dengan akar budaya di Indonesia. Dalam bidang pendidikan, budaya murid yang segan dengan guru sudah mulai menghilang. Dengan mudah dapat ditemukan dalam pembelajaran siswa yang berbicara keras dengan guru, siswa menyela pembicaraan guru, bahkan ketika bertemu di jalan raya, murid menyapa gurunya dengan berteriak. Rasa hormat seorang murid dengan gurunya sudah mulai berkurang.

Teori psikologi membuktikan bahwa kecerdasan akademik tanpa didukung oleh kecerdasaan spiritual, sosial, dan emosional tidak akan begitu berarti. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk menyeimbangkan antara kecerdasan akademik, spiritual, sosial, dan emosional. Upaya tersebut membutuhkan elaborasi dari stake holder pendidikan. Bukan hanya guru, namun juga orang tua, lingkungan, serta dunia usaha atau industri perlu dirangkul untuk mewujudkannya.

Guru bertanggung jawab secara moral untuk menyelipkan budi pekerti dalam kegiatan pembelajarannya. Hal ini tidak hanya tugas guru PKn atau Agama, namun menjadi tugas semua guru. Semua mata pelajaran termasuk tematik dapat disisipi budi pekerti. Tidak hanya secara teoretis, guru juga harus dapat menjadi tauladan kepada siswa ketika bergaul dengan sesama guru dan dengan masyarakat sekitar. Penanaman budi pekerti di lingkup pendidikan dasar dapat dilakukan dengan kembali membudayakan mendongeng. Amanat yang terdapat di dalam dongeng akan diserap dalam alam bawah sadar para siswa sehingga menjadi karakter.

Penggalakan kembali kegiatan 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun) perlu dilakukan di setiap kelas. Setiap bertemu orang baik didahului dengan senyum, diikuti dengan mengucapkan salam, menyapa, dan berperilaku sopan santun dalam bertindak dan berucap. Budaya 5S akan selalu menjadi pengingat bagi siswa untuk selalu menghargai orang lain.

Selain sebagai pendidik guru juga sebagai model atau tauladan bagi para muridnya. Bagaimanapun juga perilaku seorang guru pasti dilihat oleh para siswanya. Bagaimana guru bertutur kata maka itu yang akan menjadi pelajaran yang baik untuk siswanya secara konkrit. Ketika bertemu dengan sesama guru atau wali murid bahkan orang lain hendaklah seorang guru selalu bersalaman dan mengucapkan salam, lalu berbicara dengan sopan. Agar para siswa juga tahu bagaimana gurunya menjadi model.

Memiliki generasi penerus yang berkarakter dan menjunjung tinggi budaya bangsa merupakan kebanggaan. Mewujudkannya membutuhkan pengorbanan, namun bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Bagi seorang guru hal tersebut adalah tantangan. Sanggupkan kita untuk mewujudkan?

Tags #