Filosofis Dalam Permaianan Anak-anak Yang Mulai Ditinggalkan

Senin, 16 Maret 2015 14:20:53 - Posting by Rahmad - 463 views

KoranPendidikan.com - Indonesia memiliki pulau-pulau begitu luas dan  menyimpan banyak kekayaan. Kekayaan tersebut seperti keanekaragaman kebudayaan yang dihasilkan setiap suku atau etnis yang ada di Indonesia. Kebudayaan merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh kehalusan akal budi manusia yang tak ternilai harganya. Menuut Hamidy (budayawan Riau) mengatakan bahwa hasil karya kehalusan akal budi manusia dalam bentuk kebudayaan itu mengandung nilai-nilai luhur yang sangat berguna dalam kehidupan masyarakatnya.

Salah satu hasil kebudayaan adalah permainan rakyat. Permainan rakyat merupakan sebuah permainan yang biasa dilakukan oleh anak-anak yang berusia 7-15 tahun untuk mengisi waktu senggang atau sekedar mencari hiburan. Di sisi lain, permainan-permainan rakyat ini mengajarkan nilai filosofis yang sangat berguna bagi perkembangan mental anak. Nilai filosofis yang terkandung dalam sebuah permainan rakyat, seperti nilai sportivitas, kecermatan, kecepatan, kewaspadaan, dan sebagainya. Nilai-nilai tersebut, bisa kita temukan dalam permainan Petak Umpet.

Petak Umpet merupakan salah satu permainan rakyat yang ada di Kepulauan Riau. Namun demikian, permainan ini juga terdapat di berbagai wilayah yang ada di indonesia hanya terdapat perbedaan pada penamaan atau penyebutan dan pada aturan mainya. Ada yang menyebut Petak Umpet dengan nama Tarantintin, Dhelikan, Jethungan, Jumpritan, Jilumpet, atau Jepungan.

Petak Umpet dimainkan paling kurang oleh 3 orang dan tidak ada batas maksimal. Namun, Tarantintin jarang sekali dimainkan oleh lebih dari 50 orang. Permainan ini diawali dengan hompimpa dan suit untuk menentukan siapa yang harus jaga. Hompimpa ini dilakukan dengan cara membentuk formasi melingkar. Kemudian mengulurkan tangan kanan ke depan dengan jari-jari dalam posisi terbuka. Kemudian, Masing-masing tangan peserta digoyang-goyangkan ke kanan dan ke kiri sambil mengucapkan “hompimpa alaihum gambreng” pada kata gambreng, peserta harus menghentikan tangannya. Hasilnya ada telapak tangan yang puggungnya menghadap ke atas, dan ada yang menghadap ke bawah. Jumlah tangan yang posisinya sama dan terbanyak itulah yang menang. Sisanya harus mengulanginya hingga tinggal dua peserta. Dua peserta terakhir melakukan suit untuk menentukan siapa yang harus jaga.

Penjaga, harus menghadap dinding, tiang, atau batang pohon. Selain itu penjaga harus menghitung dalam jumlah yang ditentukan sambil menutup mata, sedangkan peserta lain mencari tempat persembunyian yang aman dan tidak mudah ditemukan oleh penjaga. Apabila hitungan yang ditentukan sudah selesai, maka si penjaga harus mencari dan menemukan peserta yang sembunyi. Setelah menemukan salah satu peserta, penjaga harus menyebutkan nama peserta itu dan segera berlari ke tempat di mana ia jaga. Seorang penjaga harus lebih dulu sampai dari pada peserta yang telah ditemukan dari persembunyiannya. kalau tidak maka si penjaga harus mengulang menjaga lagi. Permainan berlajut sampai semua peserta dapat ditemukan oleh penjaga. Seorang penjaga juga harus jeli waktu meninggalkan tempat jaganya, sebab apabila ada salah satu pemain yang tanpa sepengetahuan penjaga mendatangi tempat jaganya, maka si penjaga harus berjaga kembali. Penjaga selanjutnya adalah peserta yang pertama kali ditemukan.

Setelah semua peserta berhasil ditemukan, giliran penentuan siapa yang harus jaga selanjutnya. Penentuan penjaga berikutnya dilakukan dengan cara penjaga menghadap tempat jaga sambil menutup mata, sedangkan peserta lain berbaris di belang penjaga. Kemudian, penjaga akan menyebutkan nomor urut peserta yang berbaris dibelakangnya secara acak. Misalnya, penjaga menyebutkan nomor urut 5, perserta yang berada di urutan kelima itulah yang menjadi penjaga selanjutnya.

Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam Permainan Petak Umpet adalah:

Nilai sportivitas, yang terkandung di dalam permainan Petak Umpet adalah kesedian peserta menjadi penjaga, apabila ia kalah dalam hompimpa atau suit. Selain itu, apabila ada peserta yang tanpa sepengetahuan penjaga mendatangi tempat jaganya atau peserta yang ditemukan oleh penjaga sampai lebih dulu ke tempat jaga, maka penjaga harus rela menjadi penjaga lagi. Dengan demikian, Peserta tidak akan pernah bermain curang.

Nilai kecermatan, terdapat pada saat penjaga menyebutkan nama peserta yang telah ditemukannya. Apabila penjaga salah dalam menyebutkan nama, maka hal itu dinyatakan tidak sah. Nilai kecepatan, terlihat pada saat penjaga berlari menuju tempat jaganya setelah menemukan dan menyebutkan nama peserta yang ditemukannya. Seperti diuraikan sebelumnya, apabila peserta yang ditemukan oleh penjaga sampai lebih dulu, maka penjaga harus jaga lagi. Nilai kewaspadaan, tercermin pada saat penjaga meninggalkan tempat jaganya. Penjaga harus berhati-hati, jangan sampai ada peserta mendatangi tempat jaganya, kalau tidak ingin menjadi penjaga lagi.

Nilai filosofi yang terkandung dalam sebuah permainan rakyat, secara tidak disadari akan berpengaruh terhadap pola tingkah laku anak-anak yang memainkannya. Pada gilirannya nilai-nilai itu akan berpengaruh terhadap seluruh aspek kehidupannya di masa mendatang yang tentunya memberikan manfaat dalam menjalani kehidupan.

Namun, Sangat disayangkan, seiring perkembangan zaman yang begitu pesat yang menawarkan berbagai permainan modern yang berbasis elektronik. Seperti games online,  padahal permaian modern justru kurang memberikan nilai pendidikan bahkan terkadang mengedepankan kecurangan.  Namun dalam kenyataanya, permainan Petak Umpet mulai jarang dimainkan oleh anak-anak. Malah, apabila ada anak yang memainkan Petak Umpet, dikatan ketinggalan zaman, kuno, atau katrok. Itulah sebabnya banyak anak-anak zaman sekarang yang tidak memahami atau mengenal permainan Petak Umpet. Hal ini merupakan sesuatu hal yang sangat miris bagi kita semua sebagai  pewaris kebudayaan yang seharusnya wajib mempertahankan dan melestariakan warisan dari para leluhur.

Rahmad Kurniawan, S.Pd.
Guru Bahasa Indonesia, SMA Maha Bodhi Karimun
Alumni Bahasa & Sastra Indonesia, UIR, Pekanbaru.

Tags #