Sekolah Ramah Siswa

Rabu, 28 Januari 2015 11:44:33 - Posting by ADMIN - 586 views

KoranPendidikan.com - Beberapa hari terakhir publik dihebohkan dengan sebuah video yang lagi-lagi menampilkan adegan  kekerasan dalam dunia pendidikan. Dalam video yang berdurasi sekitar empat menit tersebut tampak seorang oknum guru perempuan di Makassar  mengenakan kerudung putih, rompi dan celana berwarna hitam menendang kemudian memukul seorang siswa laki-laki yang berdiri di sudut ruangan. Sementara temannya yang lain hanya diam menyaksikan aksi gurunya. Tidak hanya sampai di situ, guru berkacamata ini juga memberikan hukuman kepada siswa dengan mengerjakan soal di papan tulis. Guru dalam video juga menyuruh siswa lain memukul badan siswa yang sedang menulis.

Ironis memang, di tengah kabut kelam dan berbagai masalah pelik yang menyelimuti dunia pendidikan Indonesia, masih saja kita mendengar berbagai bentuk kekerasan yang terjadi, baik itu berupa kekerasan fisik, verbal, psikis dan juga seksual di lingkungan sekolah. Belum hilang dari ingatan kita kasus kekerasan seksual yang menimpa siswa TK di salah satu sekolah internasional di Jakarta, kini kita kembali dikejutkan dengan kasus kekerasan yang lainnya.

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan angka kekerasan dalam pendidikan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Selama kurun bulan Oktober dan November 2014 saja, angka kekerasan terhadap pelajar mencapai 230 kasus. Pada tahun 2013 KPAI mencatat ada 3023 kasus, naik sebesar 60% dari tahun sebelumnya sebanyak 2637 kasus. Sedangkan di tahun 2011 terdapat 2059 kasus kekerasan. Data tersebut hanya mengacu pada kasus yang terungkap, yang artinya jika semua kasus terungkap maka akan lebih banyak lagi data kasus kekerasan yang dialami oleh anak.

Kekerasan dalam pendidikan dapat disebabkan oleh banyak faktor. Minimnya perhatian dan pengawasan di lingkungan pendidikan membuat berbagai bentuk kekerasan bisa terjadi di mana saja serta pada siapa saja, baik itu antar siswa, guru pada siswa atau sebaliknya.  Terkait kasus kekerasan yang melibatkan guru terhadap siswa, Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 secara yuridis melarang adanya segala bentuk kekerasan terhadap peserta didik. Dalam pasal 4 misalnya, disebutkan bahwa setiap anak termasuk peserta didik berhak mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Namun sayang, kurangnya sosialisasi membuat banyak dari kita kurang paham atau bahkan tidak tahu terhadap UU tersebut, sehingga melampaui batas-batas dalam mendidik.

Sekolah harusnya menjadi wadah di mana siswa merasa nyaman dalam belajar, aman dan tenteram secara fisik dan psikis. Segala bentuk kekerasan ataupun intimidasi yang dilakukan oleh guru kepada siswa tidak bisa ditolerir. Sebab, sebagai pendidik, guru memiliki kewajiban untuk menampilkan keteladanan dan mengutamakan kasih sayang di dalam maupun di luar kelas. Untuk itu, perlu bagi kita menjadikan sekolah sebagai lingkungan yang ramah siswa. Upaya untuk menjadikan sekolah ramah siswa dapat ditempuh dengan menjamin dan memenuhi hak-hak peserta didik secara terencana dan bertanggung jawab. Prinsip utamanya adalah tidak adanya diskriminasi, hak hidup serta penghargaan kepada anak. Sekolah harus memenuhi standar pendidikan, memiliki kebijakan anti kekerasan, para guru harus memiliki kode etik dalam mendidik, dan penegakan disiplin non kekerasan.

Menumbuhkan kesadaran guru sebagai pendidik juga perlu dilakukan. Selain dituntut untuk bekerja cerdas dan kreatif dalam mentransformasikan ilmu, guru juga harus sadar akan pentingnya menginternalisasikan nilai-nilai moral, agama dan budi pekerti kepada peserta didik. Sebagaimana halnya guru, siswa pun perlu ditumbuhkan kesadarannya tentang toleransi, sikap menghargai perbedaan dan hak-hak individu.

Siswa hakikatnya adalah embrio masa depan bangsa. Sekolah hendaknya, memperlakukan embrio-embrio tersebut dengan sebaik-baiknya. Pendidikan yang didasari kasih sayang, pengembangan potensi dan kepribadian akan menjadikan mereka secercah harapan di masa depan. Oleh karenanya, mari jadikan lingkungan sekolah kita ramah dengan mereka, jangan sampai kekerasan dalam pendidikan seperti halnya di Makassar yang akhir-akhir ini  menghebohkan dunia pendidikan kita terulang kembali.

Willy Juanggo, S.Pd.
Guru SMA Pribadi Bilingual Boarding School Bandung

Tags #