Guru Pengajar vs Guru Pembelajar

Selasa, 27 Januari 2015 15:00:23 - Posting by ADMIN - 595 views

Pergeseran paradigma pendidikan telah terjadi sejak tahun tujuh puluhan. Hal tersebut mempengaruhi pandangan terhadap pendidik dan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Pendidikan tidak lagi dimaknai hanya sebagai kegiatan menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa seperti yang dahulu dipahami.

Dalam konteks saat ini, pendidikan merupakan proses membantu siswa untuk belajar, memaksimalkan potensi yang mereka miliki, serta membimbingnya sampai ke tahap dimana peserta didik mengerti dan sadar akan pentingnya pendidikan sepanjang hayat, bukan hanya sekedar mentransferkan apa yang guru miliki kepada peserta didik. Guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya model pembelajaran di dalam kelas. Namun lebih kepada sebagai konselor, fasilitator, kolaborator dan pelatih strategi belajar bagi siswa.

Guru memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Bagaimana siswa mengolah atau mencerna bahan ajar tercemin dalam perilaku guru pada saat berinteraksi dengan mereka di dalam kelas. Profesor Bambang Kaswanti Purwo, guru besar ilmu linguistik Universitas Atma Jaya dalam hal ini mengklasifikasikan jenis guru menjadi dua macam, yakni guru pengajar dan guru pembelajar.

Kata pengajar dan pembelajar sama-sama berasal dari kata dasar ajar. Kata pengajar mengacu pada sebuah proses pengajaran, sebagai pelaku di dalamnya. Begitu juga pembelajar sebagai pelaku dalam proses pembelajaran. Pengajaran sendiri memiliki makna proses, cara, perbuatan mengajar atau mengajarkan. Sedangkan pembelajaran berarti proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.

Guru pengajar adalah guru yang mengajar siswa, menempatkan diri sebagai satu-satunya sumber informasi di dalam kelas, satu-satunya yang “paling tahu”. Ia sepenuhnya mengendalikan interaksi di dalam kelas. Guru pengajar menjalani tahap-tahap penyampaian bahan ajar sesuai dengan rencana sudah disiapkan sebelumnya, terus melaju berusaha memenuhi target menyelesaikan materi yang sudah direncanakan. Serta, lebih memusatkan perhatian pada bagaimana dapat menyelesaikan bahan ajar yang telah disiapkan tanpa (kadang) kurang merasa perlu tahu apakah materi yang disampaikan dapat dipahami siswa atau tidak.

Sedangkan guru pembelajar adalah guru yang menjadikan siswa belajar, atau dengan kata lain “membelajarkan siswa”. Seperti halnya guru pengajar, guru pembelajar juga menyiapkan rencana penyampaian bahan ajar kepada siswa. Namun, perhatianya tidak hanya terfokus pada bagaimana bahan ajar dapat diselesaikan. Kepeduliannya lebih kepada kemampuan siswa untuk memahami apa yang ia sampaikan. Guru pembelajar tidak mendominasi interaksi di dalam kelas. Ia menempatkan diri sebagai teman, fasilitator dan konselor bagi siswa. Singkatnya, guru pembelajar memberikan peluang kepada siswa untuk mencoba belajar dengan kemampuan sendiri, atau dalam bekerja sama dengan temannya. Ia melatih siswa untuk tidak sepenuhnya bergantung kepada guru, memberi kesempatan pada siswa untuk mengalami bahwa mereka juga memiliki kemampuan sendiri untuk memperbaiki kekurangan. Mereka dilatih untuk dapat belajar mandiri. Lebih dari itu, siswa dipersiapkan agar belajar tidak semata-mata agar naik kelas atau lulus ujian. Karena hakikatnya, belajar adalah kegiatan sepanjang hayat, bukan di lingkungan sekolah saja dan karena itu guru menyadarkan akan potensi yang dimiliki oleh siswa.

Baik guru sebagai pengajar maupun sebagai pembelajar sama-sama berkehendak baik. Apa yang dilakukan oleh kedua tipe guru ini dalam rangka ingin membantu siswa. Hanya, apa yang dilakukan dalam usahanya membantu siswa berbeda. Guru pengajar mengerahkan tenaganya sendiri, bertumpu pada dirinya sendiri dalam kegiatannya membantu siswa. Sedangkan guru pembelajar memperhitungkan tidak hanya kekhasan dan keanekaragaman dalam diri siswa (learners centered), tetapi juga membuka peluang bagi siswa untuk terus menerus mencoba sendiri atau bersama temannya. Selain memaksimalkan potensi dalam diri siswa, ia juga memberi kesadaran bagi mereka akan pentingnya pendidikan sepanjang hayat.

Willy Juanggo, S.Pd.

Guru SMA Pribadi Bilingual Boarding School Bandung

Tags #